Jumat, 18 Juni 2010

waswar kelas TO BE Family

acara demi acara yang kita lakukan selama setahun ini.
tak ada banding nya dan tak ada duanya kenangan kita saat kita bersama di kelas TO BE Family.

TO BE Family ini berarti keluarga Tujuh Bhe yang menginginkan untuk memupuk tali persaudaraan kita lebih erat.

di kelas kami, ada berbagai macam tragedi untuk menyusun dekorasi, susunan acara, susunan tema, dll.

tragedi-tragedi tersebut di selimuti dengan suasana marah, senang, duka, dll.

Rabu, 09 Juni 2010

Arti Sahabat

Sahabat!!!! Apa kalian tahu arti sahabat? Apa perbedaan antara seorang sahabat dengan seorang teman.
Tahu kah kalian bahwa sahabat adalah orang yang paling kita percaya, sahabat adalah orang yang bisa diajak cerita tentang masalah yang sedang kita hadapi, sahabat adalah orang yang ada disaat kita butuhkan atau bahkan juga disaat kita tidak butuh pun sahabat selalu ada disamping kita untuk menemani kita. Seorang sahabat sejati sangat sulit sekali kita cari atau kita jumpai.
Berbeda dengan teman. Teman adalah seseorang yang kita kenal dan seseorang yang bisa kita jumpai disaat waktu tertentu atau dengan kata lain tidak selamanya kita jumpai seorang teman. Mencari teman iu sangat mudah dicari dibandingkan seorang sahabat, kita hanya menemui orang yang tidak kita kenal kemudian mengajaknya berkenalan, setelah berkenalan maka ia sudah bisa kita anggap sebagai teman.
Sahabat adalah seseorang yang apabila kita sedang sedih ia bisa membuat kita tersenyum, sementara itu ketika kita senang ia akan jauh lebih senang dari kita. Rasanya tidak terlalu berlebihan kalau keberadaan seorang sahabat memang sangat istimewa, ia bisa menjadi sebuah zat penting yang memberi warna dalam kehidupan kita.
Sahabat adalah teman curhat kita dan tidak ada istilah stress ketika dirundung masalah, seberat apapun masalah yang sedang kita hadapi kalu kita punya seorang sahabat. Dalam hal ini sahabat juga bisa menjadi tempat berbagi cerita, tempat curhat yang nyaman. Selain itu kita lebih bisa mengungkapkan semua perasaan kita selain kepada keluarga ataupun pacar yaitu kepada sahabat kita. Tapi bukan berarti setiap masalah harus lari ke sahabat (ibaratnya itu sahabat adalah dewa penolong, butuh bantuan, butuh pertolongan langsung lari ke sahabat, dan siapa tau dia bisa bantu, bisa dikasih solusi, atau palig juga opini) yang paling baik dan paling utama itu dengan cara menyelesaikannya dengan sendiri, baru kekeluarga terus orang terdekat yaitu sahabat dan tidak lupa berdoa kepada Allah SWT.
Selain itu sahabat juga orang yang nyambung diajak ngobrol, diskusi, teman berbincang yang menyenangkan dan semua itu akan tercapai manakalakita bisa saling mengenal kepribadiannya masing-masing. Dan sahabat juga orang yang dengan kelapangan hatinya bisa mengerti kita, dengan keterbukaan tangannya bisa meneima kita apa adanya, tanpa pernah berusaha mempengaruhi apalagi mengubah keadaan kita.
Sahabat itu cermin bagi diri kita, rujukan tempat kita mengekspresikan diri. Sahabat itu seperti tubuh, bila tubuh kita salah satu sakit, maka yang lain akan merasa sakit. begitu juga seorang sahabat dia akan punya kesadaran diri kalau sahabatnya sedang dalam kesulitan, dan itu dilakukan atas dasar keikhlasan bukan paksaan apalagi pamrih.

Arti Teman

apa itu teman ?
teman ?
apa sihh ?

teman menurut kalian apa ?
apa seperti sahabat ?

teman menurutku ada saatku butuh.
layaknya sahabat.
apa yang dimaksud sahabat adalah teman yang paling dekat dengan diri kita.

teman akan dekat kepada kita saat kita membencinya.
apa kalian tahu ?

kita membencinya, dan dia dekat, apa arti tersebut ?
ya, dia itu mempedulikan kita.

apa yang kita lakukan seharusnya yang sewajarnya dan layak untuk diterima di hati teman.
kita harus melakukannya dengan berfikir matang untuk hal tersebut.
sehingga, teman kita tidak merasa tersinggung maupun sakit hati.

coba bayangkan jika kamu disakiti hati kalian oleh temanmu!
pasti sakit kan?

maka dari itu, kita jangan pernah coba-coba untuk melakukan haltersebut.

Jumat, 28 Mei 2010

Cinta Abadi

Ma, itu apa, yang kelap-kelip di atas …” telunjukku mengarah ke langit.
“Itu namanya bintang nak, salah satu ciptaan Allah yang menakjubkan,” terang Mama dengan sempurna sekaligus bijak.
Kutahu, usiaku dua tahun lebih sedikit waktu itu. Usia yang selalu ingin tahu segala hal dan mengejar seribu jawaban dari siapapun terhadap hal yang baru kulihat. Dan Mama, dialah yang paling sabar menerangkan semua tanya itu, meski tak pernah kupuas, tapi aku cukup yakin saat itu, bahwa Mama segala tahu.
Sejak malam itu, aku selalu berdiri di belakang rumah menengadah ke langit memandangi jutaan bintang yang berkelap-kelip, dan setiap saat itu pula Mama setia menemaniku. Aku ingat, mama cukup kerepotan mencari jawaban ketika aku bertanya, apakah bintang-bintang itu juga punya nama. Dengan cerdik, Mama menjelaskan bahwa bintang-bintang itu sama dengan kita, manusia. Kalau manusia punya nama, berarti bintang pun memiliki nama.
“Yang disebelah sana, namanya siapa ma…”
Keningnya berkerut, otaknya berputar mencari jawaban. Hingga akhirnya, “ooh… yang itu mama tahu, ia adalah bintang mama, karena namanya sama persis dengan nama anak mama ini…” dekapannya begitu hangat, tak ada yang bisa melakukan semua itu kecuali mama. Waktu itu yang kutahu, mama sekedar menjalankan kewajibannya sebagai orang tua untuk menemani dan membahagiakanku.
Keesokkan harinya, setiap malam tiba. Mama sudah tahu, sebelum waktu tidurku tiba, aku selalu mengajaknya memandangi langit. Karena kini aku semakin senang, sejak mama mengatakan bahwa bintang yang pernah kutunjuk itu adalah aku. Tapi, hari ini mama membuatku kecewa, karena mama tak bisa menemaniku. Mama sakit, begitu kata Papa.
Aku menangis, sebab malam itu aku berniat tidak hanya minta mama menemaniku seperti malam-malam sebelumnya. Tapi aku ingin mama mengambilkanku bintang-bintang itu dan membawanya ke rumah. Aku ingin mereka menjadi temanku bermain hingga aku tak perlu bersedih setiap ketika larut mama mengajakku masuk.
Tapi Mama tetap tak bisa membantuku. Jangankan untuk mengambilkanku bintang-bintang, sekedar duduk bersama di belakang rumah, merasai sentuhan angin yang lembut, dan menyapa kedamaian malam, serta tersenyum membalas lambaian sang bulan pun, mama tak kuat. Hingga malam berakhir, aku masih kecewa. Malam itu bahkan aku tak mau makan, hingga mama yang sedang sakitpun harus memaksakan diri tetap menyenandungkan nyanyian cinta pengantar tidur. Untuk yang ini pun yang aku tahu, adalah juga kewajiban orangtua, menyanyikan lagu pengantar tidur.
Esok harinya aku demam. Karena semalaman tidak mau makan setelah beberapa jam di belakang rumah ‘bermain-main’ dengan bintang-bintang. Meski sedikit cemas, mama tak pernah panik. Sentuhan hangat mama, membaluri ramuan khusus ke seluruh tubuh kecil ini. Dua hari sudah, tak kunjung sembuh demamku. Padahal mama sudah membawaku ke dokter.
Mama semakin panik. Panasku meninggi dan sering mengigau. Tetapi justru disaat mengigau itulah mama tahu obat terbaik untuk menyembuhkanku. (sampai disini, aku masih beranggapan, mencarikan obat, menyembuhkan anak, adalah sekedar kewajiban orangtua) …
Aku tidak tahu apa yang mama perbuat. Setelah terlelap beberapa jam, aku terbangun, dan aku terkejut, hampir tak percaya apa yang kutatap di langit-langit kamarku. Bintang-bintang … mama membuatkanku bintang-bintang dari kertas berwarna metalik, banyak sekali, puluhan, entah, mungkin ratusan. Sebagiannya digantung sebagian lagi dibiarkan berserakan di tempat tidur dan lantai kamar. Kuciumi mama karena telah membawakan bintang-bintang dari langit itu ke rumah. Dan mama benar, kulihat di masing-masing bintang itu ada namanya, salah satunya, ada bintang yang paling bagus dan paling besar, diberinya namaku.
***
Anak mama yang dulu kerap memandangi bintang itu, kini sudah dewasa. Sudah hidup mandiri. Tapi aku tetap anak mama. Kemarin, kutelepon mama mengabariku bahwa aku sedang tidak sehat dan tidak masuk kantor. Beberapa jam kemudian, diantar papa dan salah seorang adikku, mama datang. Aku memang tetap bintangnya mama, dibiarkannya kepalaku bersandar dipeluknya, kurasakan kembali kehangatan itu. hingga aku tertidur.
Sore, mama hendak pulang. Sebenarnya aku ingin sekali menahannya untuk tinggal beberapa hari, tapi adikku berbisik, “Waktu abang telepon, mama sebenarnya sedang sakit …”
Ada setitik air disudut mata ini. Aku tak tahu apa yang harus kukatakan. Kini, sekali lagi kusadari. Semua yang dilakukan mama untukku, bukanlah kewajiban. Itulah yang disebut cinta, cinta abadi. Cinta yang takkan pernah bisa aku membalasnya. Dan mama adalah bintang sesungguhnya bagiku.
 
Copyright 2012 Nona Nano Nano. Powered by Blogger
Blogger by Blogger Templates and Images by Wpthemescreator
Personal Blogger Templates